RADARKHATULISTIWA- Sektor pariwisata Kalimantan Barat menunjukkan tren pertumbuhan yang semakin menjanjikan sepanjang tahun 2026.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara tidak hanya memberikan dampak positif terhadap industri pariwisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, kuliner, perdagangan, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kalimantan Barat pada Mei 2026 mencapai 14.754 kunjungan.

Sebagian besar wisatawan asing tersebut, atau sekitar 80 persen, memasuki wilayah Indonesia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, pintu perbatasan yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh Saichudin, mengatakan peningkatan jumlah wisatawan selama lima bulan pertama tahun ini menjadi salah satu indikator positif yang mampu mendorong aktivitas ekonomi daerah.

Menurutnya, bertambahnya kunjungan wisatawan secara langsung meningkatkan permintaan terhadap berbagai layanan, mulai dari akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, hingga produk-produk lokal.

“Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara sepanjang awal 2026 menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi Kalimantan Barat. Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel hingga bergairahnya sektor perdagangan, kuliner, dan usaha oleh-oleh di berbagai daerah tujuan wisata,” ujar Muh Saichudin saat menyampaikan keterangan pers di Kantor BPS Pontianak, Rabu.

Menurut Saichudin, wisatawan asal Malaysia masih mendominasi kunjungan wisatawan asing ke Kalimantan Barat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh letak geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta tingginya mobilitas masyarakat di kawasan perbatasan, khususnya melalui PLBN Entikong.

“Mayoritas wisatawan mancanegara yang datang ke Kalimantan Barat masih berasal dari Malaysia karena memang aksesnya paling dekat, terutama melalui Entikong,” katanya.

Tidak hanya wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan. BPS mencatat selama periode Januari hingga Mei 2026 terdapat 6,33 juta perjalanan wisatawan nusantara menuju Kalimantan Barat. Jumlah tersebut meningkat 20,24 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Peningkatan mobilitas wisatawan tersebut memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor usaha. Semakin banyaknya wisatawan yang datang membuat tingkat hunian hotel meningkat, aktivitas perdagangan semakin ramai, restoran dan pusat kuliner memperoleh lebih banyak pelanggan, sementara toko oleh-oleh serta pelaku UMKM turut merasakan peningkatan permintaan terhadap produk lokal.

“Dengan adanya wisatawan maupun perjalanan bisnis, tentu akan berdampak pada tingkat hunian hotel, perdagangan, kuliner, hingga penjualan oleh-oleh. Semua itu akan menggerakkan perekonomian Kalimantan Barat,” jelas Saichudin.

Pertumbuhan sektor pariwisata juga tercermin dari meningkatnya kinerja industri perhotelan. Berdasarkan data BPS, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Barat pada Mei 2026 mencapai 56,26 persen. Angka tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan akomodasi, baik dari wisatawan yang datang untuk berlibur maupun pelaku perjalanan dinas dan bisnis.

Sementara itu, Rata-rata Lama Menginap (RLM) tamu hotel berbintang tercatat 1,41 malam. Meskipun durasi menginap relatif singkat, kondisi tersebut mengindikasikan tingginya frekuensi kunjungan ke Kalimantan Barat untuk berbagai kepentingan, mulai dari kegiatan wisata, perdagangan, pemerintahan, hingga urusan bisnis.

Mobilitas masyarakat menuju Kalimantan Barat juga terlihat dari sektor transportasi. Pada Mei 2026, jumlah penumpang angkutan udara yang tiba di Kalimantan Barat mencapai 100.778 orang, sedangkan jumlah penumpang yang berangkat sebanyak 95.681 orang.

Di sektor transportasi laut, tercatat 8.252 penumpang datang dan 7.132 penumpang berangkat selama periode yang sama.

Saichudin menilai meningkatnya arus perjalanan melalui jalur udara, laut, maupun darat menunjukkan bahwa Kalimantan Barat semakin berkembang sebagai salah satu tujuan perjalanan yang memiliki daya tarik tinggi.

Kondisi ini dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendukung pertumbuhan perdagangan, investasi, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Menurutnya, peluang peningkatan jumlah wisatawan masih terbuka lebar seiring semakin baiknya konektivitas transportasi menuju Kalimantan Barat. Salah satu faktor pendukung adalah beroperasinya penerbangan internasional langsung rute Pontianak–Singapura, yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara maupun pelaku bisnis untuk datang ke Kalimantan Barat.

Selain itu, rencana pembukaan sejumlah rute internasional baru juga diyakini akan semakin memperkuat posisi Kalbar sebagai gerbang ekonomi di wilayah barat Pulau Kalimantan.

Meski demikian, Saichudin mengingatkan bahwa peningkatan aksesibilitas harus diimbangi dengan pengembangan kualitas destinasi wisata, penyediaan infrastruktur yang memadai, serta peningkatan kualitas layanan kepada wisatawan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat semakin optimal.

“Momentum tersebut perlu diimbangi dengan penguatan kualitas destinasi wisata, infrastruktur, serta layanan pariwisata agar dampak ekonomi yang dihasilkan semakin optimal,” ujarnya.

BPS menilai tren positif yang terjadi sepanjang awal tahun 2026 menunjukkan bahwa Kalimantan Barat kini tidak hanya dikenal sebagai daerah perbatasan dengan aktivitas lintas negara yang tinggi, tetapi juga mulai berkembang sebagai destinasi wisata, pusat perdagangan, serta kawasan investasi yang memiliki prospek cerah.

Dengan dukungan infrastruktur transportasi yang terus berkembang, konektivitas internasional yang semakin terbuka, serta pengembangan destinasi wisata unggulan di berbagai daerah, sektor pariwisata diyakini akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat dalam beberapa tahun mendatang.

Pertumbuhan tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing daerah, serta memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Iklan