Karhutla di Ketapang Ancam Satwa Liar, Trenggiling Ditemukan Mati

Karhutla di Ketapang Ancam Satwa Liar, Trenggiling Ditemukan Mati

RADARKHATULISTIWA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menunjukkan dampak serius terhadap ekosistem.

Di tengah upaya pemadaman kebakaran, tim Manggala Agni menemukan seekor trenggiling dalam kondisi mati di sekitar kawasan lahan yang terdampak api.

Temuan tersebut terjadi di sekitar Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Rabu (19/8/2026). Satwa dilindungi itu ditemukan ketika personel Manggala Agni melakukan penanganan dan pemadaman karhutla di lokasi.

Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, membenarkan adanya temuan trenggiling tersebut. Menurutnya, satwa itu ditemukan oleh salah satu personel saat berada di kawasan terdampak kebakaran.

“Iya betul kejadian tersebut, satwa tersebut ditemukan oleh salah satu tim kami di lokasi kemarin,” kata Efendi saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).

Ular Jadi Satwa yang Paling Sering Ditemukan Mati

Efendi menjelaskan, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat maupun merusak vegetasi, tetapi juga berdampak langsung terhadap berbagai jenis satwa yang berada di kawasan terdampak.

Selama melakukan penanganan karhutla, tim Manggala Agni beberapa kali menemukan satwa yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kepungan api.

Menurut Efendi, ular menjadi salah satu jenis satwa yang paling sering ditemukan dalam kondisi mati di lokasi kebakaran.

“Sejauh ini hewan atau satwa yang banyak ditemukan dalam kondisi mati akibat kebakaran hutan itu ular,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan dapat memberikan dampak ekologis yang cukup besar. Satwa yang hidup di sekitar kawasan hutan dan lahan gambut harus menghadapi perubahan habitat secara tiba-tiba ketika api meluas.

Orangutan dan Beruang Belum Ditemukan Menjadi Korban

Meski menemukan sejumlah satwa terdampak karhutla, Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang sejauh ini belum menemukan orangutan maupun beruang dalam kondisi menjadi korban kebakaran.

Efendi mengatakan, kedua jenis satwa tersebut dinilai memiliki kemampuan dan insting yang lebih kuat dalam merespons ancaman kebakaran.

Menurutnya, satwa seperti orangutan dan beruang biasanya mampu mendeteksi keberadaan api dari jarak tertentu sehingga memiliki kesempatan untuk menjauh dari lokasi sebelum kobaran api semakin meluas.

“Kalau untuk orangutan atau beruang sejauh ini kami belum menemukan, karena biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar suara api dari kejauhan, mereka akan cepat menjauh dan pergi,” jelasnya.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti satwa liar sepenuhnya terbebas dari ancaman karhutla. Kebakaran yang meluas tetap berpotensi menghilangkan habitat, sumber makanan, serta jalur pergerakan berbagai jenis satwa.

Trenggiling Ditemukan di Sekitar Jalan Poros Tanjung Pura

Koordinator Pencegahan dan Inovasi Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang, Fitria Sri Handayani, mengungkapkan lokasi ditemukannya trenggiling berada tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura.

“Penemuan trenggiling itu kemarin, tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan,” kata Fitria.

Karhutla di Ketapang Ancam Satwa Liar, Trenggiling Ditemukan Mati

Lokasi tersebut menjadi salah satu kawasan yang ditangani petugas karena terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Keberadaan satwa liar di sekitar kawasan yang terbakar menjadi perhatian tersendiri bagi petugas. Selain melakukan pemadaman untuk menghentikan penyebaran api, penanganan karhutla juga berkaitan erat dengan upaya mengurangi dampak kebakaran terhadap ekosistem dan satwa.

Selain Trenggiling, Tim Temukan Sarang Lebah

Fitria menambahkan, selama melakukan penanganan karhutla di lapangan, personel Manggala Agni tidak hanya menemukan satwa dalam kondisi mati.

Tim juga kerap menemukan berbagai tanda keberadaan satwa lain, termasuk sarang lebah yang berada di sekitar kawasan terdampak kebakaran.

“Sejauh ini paling trenggiling, ular, sama sarang-sarang lebah saja yang sering ketemu di lapangan,” jelasnya.

Temuan tersebut menjadi gambaran bahwa kawasan yang terbakar sebenarnya merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa. Ketika kebakaran terjadi, kehidupan di dalam ekosistem tersebut ikut terdampak, baik secara langsung akibat api maupun secara tidak langsung karena rusaknya habitat.

Karhutla Ancam Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati

Peristiwa ditemukannya trenggiling mati di lokasi karhutla Ketapang menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada kerusakan vegetasi atau munculnya asap.

Kebakaran juga dapat menyebabkan hilangnya habitat satwa, mengganggu rantai makanan, serta memaksa satwa liar berpindah ke kawasan lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

Karena itu, upaya pencegahan karhutla menjadi penting untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus melindungi keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat.

Penanganan kebakaran di lapangan pun tidak hanya bertujuan menghentikan api, tetapi juga mencegah agar dampaknya tidak semakin luas terhadap masyarakat, lingkungan, dan satwa liar.

Temuan trenggiling di Desa Sungai Awan Kiri tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa karhutla memiliki dampak ekologis yang serius dan membutuhkan perhatian serta upaya pencegahan dari berbagai pihak.

Iklan