Karhutla Ketapang Ancam Habitat Satwa, Tim Gabungan Evakuasi Empat Orangutan

Karhutla Ketapang Ancam Habitat Satwa, Tim Gabungan Evakuasi Empat Orangutan

RADARKHATULISTIWA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga semakin mengancam keberlangsungan satwa liar yang kehilangan habitatnya.

Sepanjang Agustus 2026, tim gabungan berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi empat individu orangutan dari dua lokasi berbeda yang terdampak kebakaran dan aktivitas pembukaan lahan.

Upaya penyelamatan tersebut dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta melibatkan masyarakat setempat.

Empat orangutan tersebut dievakuasi dalam dua operasi terpisah. Penyelamatan dilakukan sebagai langkah cepat untuk mencegah satwa dilindungi tersebut semakin terancam akibat kerusakan habitat yang terjadi di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko karhutla.

Tiga Orangutan Dievakuasi dari Kebun Warga

Operasi penyelamatan terbaru berlangsung pada Jumat (21/8/2026) di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Dalam operasi tersebut, tim gabungan berhasil mengevakuasi tiga individu orangutan yang ditemukan berada di kawasan perkebunan milik warga.

Ketiga orangutan tersebut terdiri dari seekor induk betina dewasa berusia sekitar 18 tahun, seekor anak orangutan jantan berusia sekitar 8 hingga 10 bulan, serta seekor orangutan remaja betina berusia sekitar delapan tahun.

Ketiganya diduga keluar dari habitat alaminya setelah kawasan hutan yang selama ini menjadi tempat hidup mereka terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi tersebut membuat orangutan bergerak menuju area perkebunan yang berada lebih dekat dengan permukiman masyarakat untuk mencari perlindungan maupun sumber makanan.

Situasi ini juga berpotensi meningkatkan interaksi antara satwa liar dengan manusia, terutama apabila habitat alami mereka terus mengalami kerusakan.

Proses Evakuasi Berlangsung Sejak Pagi

Proses penyelamatan tiga orangutan tersebut dilakukan sejak pagi hari. Tim mulai melakukan operasi sekitar pukul 05.00 WIB untuk memastikan kondisi dan posisi satwa sebelum proses evakuasi dilakukan.

Pembiusan terhadap induk orangutan betina bersama anaknya berhasil dilakukan sekitar pukul 11.15 WIB. Sementara itu, proses evakuasi terhadap orangutan remaja betina dilakukan beberapa jam kemudian, yakni sekitar pukul 15.10 WIB.

Setelah berhasil diamankan, ketiga orangutan tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dari YIARI.

Hasil pemeriksaan menunjukkan ketiganya berada dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan karakter liar yang baik. Dengan kondisi tersebut, tim menilai ketiganya dapat langsung dikembalikan ke habitat yang lebih aman tanpa harus menjalani proses rehabilitasi terlebih dahulu.

Tiga Orangutan Dikembalikan ke Taman Nasional Gunung Palung

Setelah proses pemeriksaan selesai, ketiga orangutan tersebut kemudian dibawa menuju lokasi pelepasliaran.

Perjalanan dilakukan melalui jalur sungai dari Dermaga Batu Barat. Setelah menempuh perjalanan, ketiga satwa tersebut akhirnya berhasil dilepasliarkan kembali sekitar pukul 20.30 WIB pada hari yang sama.

Lokasi pelepasliaran berada di kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai lebih aman dan memiliki habitat yang sesuai bagi kehidupan orangutan.

Pengembalian ke habitat alami menjadi langkah penting untuk memastikan satwa tetap dapat menjalani kehidupan secara liar sekaligus mengurangi risiko konflik dengan masyarakat.

Satu Orangutan Jantan Juga Dievakuasi Awal Agustus

Sebelum operasi penyelamatan di Desa Tanjung Pura, tim gabungan juga telah mengevakuasi satu individu orangutan jantan pada 6 Agustus 2026.

Orangutan tersebut ditemukan di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.

Proses evakuasi dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama YIARI dan PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha).

Orangutan jantan tersebut sebelumnya telah terlihat berada di kawasan perkebunan buah milik warga sejak Juli 2026.

Keberadaan satwa di sekitar perkebunan diduga berkaitan dengan semakin berkurangnya habitat dan sumber makanan akibat pembukaan lahan serta kondisi kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

Salah seorang warga setempat, Morsali, menyampaikan bahwa konflik antara satwa dan masyarakat serta kejadian kebakaran cenderung kembali terjadi ketika pembukaan lahan dilakukan pada musim kemarau.

Kondisi tersebut membuat orangutan harus berpindah mencari makanan dan tempat berlindung ketika kawasan habitatnya mengalami gangguan.

Setelah dievakuasi, orangutan tersebut kemudian ditranslokasikan ke kawasan dengan tutupan lahan yang masih cukup baik, tepatnya di area High Conservation Value (HCV) milik PT Mopakha.

Karhutla Ancam Habitat dan Memicu Konflik Satwa

Penyelamatan empat orangutan sepanjang Agustus 2026 menjadi gambaran nyata bahwa karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan asap, kerusakan lahan, maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan juga dapat menyebabkan hilangnya habitat satwa liar dan memaksa mereka keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan serta tempat berlindung.

Ketika satwa masuk ke area perkebunan atau permukiman, potensi konflik dengan manusia pun semakin besar.

Karena itu, pencegahan kebakaran hutan dan lahan dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keberlangsungan habitat satwa liar di Kalimantan Barat.

Selain pemadaman ketika kebakaran terjadi, perlindungan terhadap kawasan hutan dan wilayah yang memiliki nilai konservasi tinggi juga diperlukan agar habitat satwa tetap terjaga dalam jangka panjang.

BKSDA Tekankan Pentingnya Peran Semua Pihak

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat menekankan pentingnya komitmen bersama dari berbagai pihak untuk menjaga keutuhan kawasan hutan serta wilayah lain yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Upaya tersebut diperlukan agar kawasan yang menjadi habitat satwa liar tidak semakin terfragmentasi akibat kebakaran maupun aktivitas pembukaan lahan.

Pencegahan karhutla, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat dan satwa liar yang saling bergantung terhadap ekosistem yang sehat.

Penyelamatan empat orangutan di Ketapang sepanjang Agustus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketika habitat alami terganggu, satwa liar dapat terdorong keluar dari kawasan hutan dan masuk ke wilayah yang berdekatan dengan manusia.

Dengan memperkuat pencegahan karhutla, menjaga kawasan konservasi, serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, habitat orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan Barat diharapkan dapat terus terlindungi.

Iklan