RADARKHATULISTIWA – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga memasuki minggu ke-20 tahun 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat sebanyak 970 kasus infeksi dengue dengan empat kasus kematian yang tersebar di seluruh 14 kabupaten/kota di wilayah tersebut.
Data terbaru menunjukkan, Kabupaten Kapuas Hulu menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 181 kasus, termasuk satu kasus kematian. Tingginya angka tersebut menempatkan Kapuas Hulu sebagai wilayah dengan tingkat penyebaran dengue paling signifikan di Kalbar sepanjang awal tahun ini.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Ketapang dengan 157 kasus, disusul Kabupaten Kayong Utara sebanyak 148 kasus, serta Kabupaten Mempawah dengan 115 kasus, termasuk satu korban meninggal dunia.
Sementara itu, Singkawang mencatat 87 kasus, sedangkan Pontianak tercatat sebanyak 68 kasus. Adapun Kabupaten Landak menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi, yakni dua kasus kematian dari total 52 kasus yang terlapor.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, mengatakan bahwa tren peningkatan kasus dengue terjadi hampir setiap minggu sejak awal tahun 2026. Meski dalam beberapa pekan terakhir jumlah kasus mulai menunjukkan penurunan, laporan infeksi baru masih terus ditemukan.
“Lonjakan tertinggi tercatat pada minggu kedua dengan 88 kasus, kemudian kembali meningkat pada minggu keenam sebanyak 78 kasus. Walaupun tren mulai melandai, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena kasus baru masih terus bermunculan hingga minggu ke-20,” ujarnya.
Secara bulanan, jumlah kasus tertinggi terjadi pada Januari dengan 287 kasus, diikuti Februari sebanyak 248 kasus, Maret 209 kasus, dan April 167 kasus. Sementara hingga pertengahan Mei 2026, tercatat tambahan 62 kasus baru.
Untuk angka kematian, masing-masing tercatat satu kasus pada bulan Januari, Februari, April, dan Mei.
dr. Erna menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit infeksi virus akut yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi selama dua hingga tujuh hari, yang dapat disertai berbagai gejala serius seperti perdarahan, penurunan trombosit, kebocoran plasma darah, nyeri otot dan sendi, munculnya ruam pada kulit, hingga rasa nyeri di belakang bola mata.
“Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat, DBD dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi hingga kematian,” tegasnya.
Tingginya curah hujan yang masih terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Barat disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus DBD. Kondisi tersebut menyebabkan banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.
Selain faktor cuaca, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga dinilai turut berkontribusi terhadap tingginya angka penularan.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Kalbar mengajak seluruh masyarakat untuk lebih aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).
Langkah-langkah pencegahan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk menaburkan larvasida pada tempat penampungan air, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kelambu dan kawat kasa di rumah, memelihara ikan pemakan jentik, serta melakukan pemeriksaan jentik secara berkala minimal satu kali setiap minggu.
Dinas Kesehatan juga menegaskan bahwa fogging tetap akan dilakukan sebagai langkah pengendalian tambahan apabila ditemukan penyebaran kasus secara luas di suatu wilayah.
Masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan. Pencegahan sejak dini dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dinilai menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit ini.

