Anak Penjual Kerupuk Tembus Seleksi Paskibraka Nasional 2026 Bernama Mirza Rafi Navazani

Bagi Rafi, keberhasilan ini merupakan hadiah terbesar dalam hidupnya, sekaligus pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Mirza Rafi Navazani Sintang

RADARKHATULISTIWA- Di sebuah rumah sederhana yang terletak di Jalan Pangeran Kuning, Sintang, tumpukan kerupuk tampak memenuhi salah satu sudut ruangan. Dari tempat yang bersahaja itulah tumbuh sebuah mimpi besar seorang remaja yang kini berhasil mengharumkan nama Kalimantan Barat di tingkat nasional.

Remaja tersebut adalah Mirza Rafi Navazani, siswa SMAN 1 Sintang, yang pada tahun 2026 berhasil lolos sebagai calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional mewakili Provinsi Kalimantan Barat.

Perjalanan Rafi menuju capaian tersebut tidak berjalan mulus. Ia sempat merasa gagal melaju ke tahap berikutnya setelah tidak masuk dalam peringkat seleksi tingkat provinsi dan menganggap peluangnya telah tertutup.

Namun keadaan berubah ketika terdapat peserta dari daerah lain yang dinyatakan tidak lolos pemeriksaan kesehatan (MCU). Kesempatan tersebut kembali terbuka, hingga ia mendapat kabar mendadak untuk segera mengikuti pemeriksaan kesehatan lanjutan di Pontianak.

“Awalnya saya sudah merasa selesai. Tapi tiba-tiba ditelepon dan diminta ikut MCU besoknya di Pontianak,” ungkap Rafi, Selasa (23/6/2026).

Kabar mendadak itu membuatnya terkejut sekaligus gugup. Tanpa banyak waktu persiapan, ia langsung berangkat mengikuti pemeriksaan kesehatan yang menjadi salah satu tahap penting seleksi.

Setelah dinyatakan lolos MCU di Pontianak, Rafi kemudian melanjutkan seleksi ke Jakarta. Di ibu kota, ia kembali menghadapi rangkaian pemeriksaan ketat yang meliputi rontgen, pemeriksaan mata, gigi, THT, penyakit dalam dan luar, hingga ortopedi.

Setiap tahapan seleksi harus dilalui dengan kondisi fisik dan mental terbaik karena penilaian dilakukan secara menyeluruh.

Momen pengumuman menjadi titik paling emosional dalam perjalanan tersebut. Saat hasil seleksi diumumkan dan nama Provinsi Kalimantan Barat muncul bersama namanya, Rafi tidak mampu menahan rasa haru dan kegembiraan.

“Begitu nama saya disebut, saya langsung teriak karena sangat senang,” ujarnya.

Namun keberhasilan itu bukan hasil instan. Sejak duduk di bangku SMP, Rafi telah aktif mengikuti lomba baris-berbaris dan terus mengembangkan minatnya hingga memasuki bangku SMA di SMAN 1 Sintang.

Sejak awal masuk SMA, ia memang sudah fokus mempersiapkan diri untuk seleksi Paskibraka, baik melalui latihan fisik maupun pembinaan kedisiplinan.

Persiapan tidak hanya mencakup kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan akademik. Sejak Desember tahun sebelumnya, ia mulai mempelajari Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), yang menjadi bagian penting dalam seleksi nasional.

Ia mengaku belajar secara mandiri maupun bersama teman-temannya untuk memastikan tidak tersingkir di tahap awal seleksi.

Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam keberhasilannya. Sang ibu yang sehari-hari berjualan kerupuk terus memberikan semangat tanpa henti, bahkan ikut membantu berbagai kebutuhan selama proses seleksi berlangsung.

Bagi Rafi, keberhasilan ini merupakan hadiah terbesar dalam hidupnya, sekaligus pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ini seperti hadiah terbaik dari Tuhan, sekaligus hadiah ulang tahun,” katanya.

Kabar kelolosannya di tingkat nasional juga disambut penuh kebanggaan oleh pihak sekolah, guru, serta teman-temannya di Sintang.

Meski telah berhasil menembus seleksi nasional, Rafi tidak berhenti bermimpi. Ia telah menyiapkan langkah berikutnya untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Ia juga memberikan pesan kepada generasi muda agar tidak menunda persiapan dan mulai membangun disiplin sejak dini.

“Jangan menunggu saat akan tes baru belajar. Harus disiplin dari sekarang dan terus berlatih,” pesannya.

Dari rumah sederhana dengan tumpukan kerupuk di sudut ruangannya, kisah Rafi menjadi bukti bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih prestasi tinggi, selama ada kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan yang terus dijaga. (*)

Iklan