Polnep Gandeng Kodim 1207/Pontianak dan Tirta Khatulistiwa Salurkan Air Gratis untuk Warga Pontianak
RADARKHATULISTIWA- Keterbatasan air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Pontianak mendorong Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) mengambil langkah nyata dengan memanfaatkan fasilitas dan teknologi pengolahan air yang dimiliki kampus untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Melalui aksi sosial tersebut, Polnep menyiapkan air layak konsumsi yang dibagikan secara gratis kepada keluarga besar civitas akademika maupun masyarakat di sekitar kampus yang ikut terdampak keterbatasan air bersih.
Dalam pelaksanaannya, Polnep mendapat dukungan dari Kodim 1207/Pontianak dan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak, terutama dalam penyediaan air baku serta proses pengangkutan dan pendistribusiannya.
Secara keseluruhan, Polnep menargetkan pengolahan hingga sekitar 20 ribu liter air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
ir baku yang diperoleh dari Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa terlebih dahulu diangkut menggunakan armada yang dibantu Kodim 1207/Pontianak, kemudian diproses melalui unit pengolahan air milik Polnep sebelum dibagikan kepada masyarakat.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk respons kampus terhadap kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih, terutama air yang dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
Keterbatasan pasokan juga dirasakan oleh keluarga besar civitas akademika Polnep, termasuk mahasiswa dan dosen yang harus mengantre untuk mendapatkan air bersih.
Direktur Polnep, Dr H Widodo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap kondisi yang tengah dihadapi masyarakat Kota Pontianak.
Menurutnya, kampus tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga berupaya memanfaatkan sumber daya, fasilitas, serta kompetensi yang dimiliki untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya ketika terjadi persoalan terkait kebutuhan dasar seperti air bersih.
“Kita menyikapi permasalahan yang ada di Pontianak, yaitu kurangnya air bersih siap minum dan antrean di mana-mana. Karena itu, kita maksimalkan Polnep untuk membantu, khususnya civitas akademika dan masyarakat,” ujar Widodo, Selasa (15/9/2026).
Widodo menjelaskan, air baku yang digunakan dalam kegiatan tersebut berasal dari Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa. Namun, karena Polnep memiliki keterbatasan armada untuk mengangkut air dalam jumlah besar, pihak kampus kemudian meminta bantuan Kodim 1207/Pontianak untuk mendukung proses pengangkutan dan pendistribusian air baku.
Setelah tiba di fasilitas Polnep, air baku tersebut tidak langsung diberikan kepada masyarakat. Air terlebih dahulu melalui serangkaian proses pengolahan menggunakan fasilitas pengolahan air yang dimiliki kampus.
Polnep memiliki unit pengolahan air yang dikenal dengan nama Polnep Qua. Fasilitas tersebut dilengkapi sejumlah teknologi pengolahan air, termasuk reverse osmosis (RO) dan teknologi yang oleh pihak kampus disebut sebagai teknologi air minum heksagonal.
Teknologi pengolahan tersebut dikombinasikan dengan sistem penyaringan untuk menghasilkan air yang dapat digunakan sesuai standar pengujian yang dilakukan oleh laboratorium Polnep.
Dalam prosesnya, air melalui tahapan penyaringan dan pengolahan menggunakan perangkat seperti reverse osmosis (RO), filter khusus, serta proses alkalisasi. Polnep juga menerapkan teknologi air heksagonal sebagai bagian dari sistem pengolahan yang digunakan pada fasilitas tersebut.
Teknologi air minum heksagonal sendiri merupakan metode pengolahan air yang diklaim dapat membentuk susunan gugusan molekul air menjadi struktur menyerupai segi enam.
Dalam penerapannya di fasilitas Polnep, teknologi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengolahan air yang dikombinasikan dengan proses penyaringan dan pengolahan lainnya.
Widodo menegaskan bahwa air yang akan dibagikan kepada masyarakat terlebih dahulu diperiksa melalui pengujian laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas air baku maupun air hasil pengolahan sebelum didistribusikan untuk kebutuhan konsumsi.
“Kita uji dulu. Kita punya laboratorium untuk menguji air bakunya, apakah layak diminum atau tidak. Begitu layak dan semuanya terpenuhi, aman, baru kita bagikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk kondisi saat ini Polnep tidak menjadikan pengolahan air tersebut sebagai kegiatan komersial. Seluruh air yang diproduksi melalui program tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Untuk kondisi saat ini kita tidak jualan, tetapi murni kita bagikan secara gratis untuk masyarakat agar terpenuhinya air bersih yang siap minum,” katanya.
Menurut Widodo, program pembagian air gratis tersebut akan terus dilakukan selama kondisi memungkinkan dan ketersediaan air baku masih mencukupi. Polnep akan menyesuaikan proses produksi dengan jumlah bahan baku yang tersedia agar pendistribusian dapat terus dilakukan secara bertahap.
Ia berharap kondisi cuaca serta ketersediaan air bersih di Kota Pontianak segera membaik sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Polnep Targetkan 20 Ribu Liter Air
Wakil Direktur IV Polnep, Topan Prihantoro, mengatakan proses pengolahan air dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan bahan baku yang diterima dari Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.
Untuk tahap awal, Polnep telah memproses sekitar 5 ribu liter air. Selanjutnya, pengolahan kembali dilakukan dengan target tambahan sekitar 5 ribu liter pada hari yang sama.
“Sudah terproses sekitar 5 ribu liter sejak kemarin. Hari ini proses lagi 5 ribu, hari ini 10 ribu liter akan masuk lagi. Besok dilanjutkan untuk internal dan kemudian eksternal, sampai bahan baku tersedia di kita,” ujar Topan.
Dengan proses yang dilakukan secara bertahap tersebut, Polnep menargetkan sekitar 20 ribu liter air hasil pengolahan dapat tersedia untuk kemudian disalurkan kepada keluarga besar civitas akademika dan masyarakat yang membutuhkan.
Namun, distribusi air tetap akan menyesuaikan hasil pengolahan dan ketersediaan bahan baku. Polnep juga memastikan proses pengujian tetap dilakukan sebagai bagian dari pengawasan kualitas air sebelum air tersebut dibagikan.
Topan turut menjelaskan hasil pemeriksaan terhadap air yang telah melalui proses pengolahan. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang disampaikan pihak Polnep, air tersebut memiliki pH sebesar 5,74, TDS 41 ppm, dan salinitas 0,03 ppm.
Ia menyebut kadar TDS dan salinitas yang terukur berada pada tingkat rendah. Sementara itu, hasil pengukuran pH masih berada sedikit di bawah batas minimal 6,5 yang menjadi salah satu parameter dalam penilaian kualitas air.
“Dari hasil pengujian laboratorium, pH-nya 5,74, TDS 41 ppm, dan salinitas 0,03 ppm. Salinitas itu kandungan garam di dalam air,” ujarnya.
Kodim 1207 Pontianak Dukung Distribusi Air
Dukungan terhadap aksi sosial tersebut juga diberikan Kodim 1207/Pontianak. Personel Kodim membantu proses pengangkutan air baku dari sumber yang disiapkan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa menuju fasilitas pengolahan air milik Polnep.
Babinsa Bansir Laut dari Kodim 1207/Pontianak, Serda Setyo, mengatakan pihaknya terbuka untuk membantu kegiatan sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan Kodim dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat Kota Pontianak yang sedang menghadapi keterbatasan air bersih.
“Kami dari Kodim 1207/Pontianak intinya membantu masyarakat, khususnya di Kota Pontianak. Dalam hal ini kerja sama dengan Polnep, kami sangat terbuka untuk membantu,” ujarnya.
Setyo juga menilai fasilitas pengolahan air yang dimiliki Polnep cukup memadai untuk mendukung proses penyediaan air dalam kondisi seperti saat ini.
Berdasarkan pengecekan di lapangan, proses pengolahan dilakukan menggunakan fasilitas yang tersedia di Polnep dan hasil pengujian kualitas air juga telah disampaikan oleh pihak kampus.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah melalui Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa, serta Kodim tersebut dapat terus berjalan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan pasokan air bersih.
Aksi Polnep ini sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Dengan memanfaatkan fasilitas pengolahan air yang dimiliki kampus serta dukungan berbagai pihak, kebutuhan air layak konsumsi diharapkan dapat terbantu, khususnya bagi masyarakat yang terdampak keterbatasan pasokan air bersih di Kota Pontianak. (*)





