Pejabat Pemkot Pontianak Adu Kreasi Masak Asam Pedas, Pererat Silaturahmi Jelang HUT ke-255
Radarkhatulistiwa – Suasana berbeda terlihat di halaman PMI Kota Pontianak, Minggu (1/11/2026) pagi.
Sejumlah pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak turun langsung ke dapur untuk mengikuti lomba memasak ikan nila asam pedas khas Pontianak.
Mengenakan topi koki dan celemek, para peserta yang terdiri dari Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, para asisten hingga kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tampak sibuk meracik bumbu dan mengolah ikan di depan kompor.
Menariknya, lomba memasak yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Pontianak tersebut khusus diikuti kaum laki-laki. Panitia telah menyiapkan bahan utama beserta bumbu, sementara peserta diberi kesempatan menunjukkan kreativitas dalam menghasilkan hidangan terbaik.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengaku tidak melakukan persiapan khusus sebelum mengikuti perlombaan. Namun, ia menyebut mendapat arahan dari istrinya sejak sepekan sebelumnya.
“Tidak ada persiapan khusus, cuma istri yang mengarahkan. Sudah satu minggu lalu diarahkan, jadi sekarang tinggal praktiknya,” ujarnya sembari tersenyum.
Meski telah mendapat bekal dari rumah, Edi mengakui mengolah ikan asam pedas tetap membutuhkan ketelitian. Menurutnya, peserta harus mampu menentukan komposisi bumbu sekaligus memperhatikan tingkat kematangan ikan.
“Ikan nila ini kalau terlalu matang bisa lembek, jadi harus pas memasaknya,” jelasnya.
Bagi Edi, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan, tetapi juga pengalaman menyenangkan untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan salah satu kuliner khas Kota Pontianak.
Sebanyak 34 kelompok dari lingkungan Pemkot Pontianak, termasuk badan usaha milik daerah (BUMD), turut meramaikan kegiatan tersebut. Lomba ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-255 Kota Pontianak sekaligus momentum mempererat kebersamaan setelah kegiatan Slow Jogging Pontianak 2,55K.
Edi menilai asam pedas merupakan salah satu identitas kuliner yang perlu terus diperkenalkan dan dilestarikan. Cita rasa khas masakan tersebut bahkan menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Pontianak.
“Kalau ke Pontianak tidak makan asam pedas, rasanya belum sampai ke Pontianak,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk membiasakan konsumsi ikan sebagai sumber protein, terutama bagi anak-anak. Menurutnya, ketersediaan hasil perikanan dari sungai maupun laut menjadi potensi yang perlu dimanfaatkan untuk mendukung pola makan sehat.
“Kita harus banyak makan ikan karena kandungan proteinnya diperlukan, terutama untuk anak-anak. Jadi memang harus dibiasakan dalam menu sehari-hari ada ikan,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengaku belum memiliki banyak pengalaman dalam memasak. Ia bahkan berseloroh telah mempersiapkan diri selama tujuh hari tujuh malam untuk mengikuti perlombaan tersebut.
“Persiapannya tujuh hari tujuh malam, karena memang belum pernah masak,” ujarnya yang disambut tawa peserta lainnya.
Bahasan mengatakan, hasil akhir masakan bukanlah hal utama yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Ia justru menilai lomba memasak menjadi sarana membangun keakraban dan memperkuat silaturahmi di antara aparatur sipil negara (ASN) serta pejabat Pemkot Pontianak.
“Mudah-mudahan dengan adanya agenda ini, kita bisa merajut kebersamaan dan silaturahmi, terutama di antara ASN dan para pejabat Pemkot Pontianak. Sehingga kita bisa berbagi kebahagiaan pada momentum hari jadi Kota Pontianak,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada tahun mendatang dengan cakupan peserta yang lebih luas. Bahkan, menurutnya, masyarakat umum juga berpeluang dilibatkan dalam perlombaan memasak kuliner khas daerah.
“Insya Allah ke depan bisa saja melibatkan masyarakat, sehingga lombanya tidak hanya di lingkungan pemerintah kota,” tambahnya.
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menjelaskan, pemilihan ikan asam pedas sebagai menu perlombaan merupakan upaya menjaga kekhasan kuliner daerah agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menyebutkan, meskipun asam pedas juga dikenal di sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat, masing-masing memiliki karakteristik bumbu dan cita rasa yang berbeda.
“Asam pedas Pontianak berbeda dengan asam pedas Ketapang maupun daerah lainnya. Masing-masing punya cita rasa sendiri. Nah, kekhasan inilah yang ingin kita pertahankan,” terangnya.
Yanieta menjelaskan, setiap kelompok mendapatkan ikan nila seberat 1,5 kilogram beserta aneka bumbu yang telah disediakan panitia. Peserta diberi keleluasaan menentukan takaran dan melakukan inovasi, termasuk memutuskan penggunaan kecombrang dalam masakan.
“Kalau asam pedas khas Pontianak biasanya tidak memakai kecombrang. Tetapi kami tetap menyiapkannya. Silakan peserta berinovasi, yang penting tetap mengenal cita rasa khas asam pedas Pontianak,” jelasnya.
Untuk menjaga penilaian tetap sesuai dengan karakteristik kuliner daerah, panitia juga menghadirkan juri yang memahami cita rasa asam pedas khas Pontianak.
Yanieta mengaku senang melihat antusiasme para peserta. Menurutnya, konsep fun cooking sengaja dipilih agar para pejabat dapat menikmati kegiatan dalam suasana santai sekaligus membawa pesan tentang pentingnya melestarikan kuliner lokal.
“Biasanya bapak-bapak jarang ke dapur, lebih sering tinggal makan saja. Tetapi hari ini justru mereka yang memasak sendiri. Antusiasmenya luar biasa,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda tahunan dengan menghadirkan berbagai menu tradisional khas Pontianak lainnya. Selain memperkenalkan kekayaan kuliner lokal, kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kekompakan di lingkungan pemerintah kota.
“Yang penting semuanya happy. Menang atau tidak menang bukan persoalan. Intinya kita bersama-sama menyukseskan kegiatan ini, menjaga silaturahmi, kekompakan, dan tentunya melestarikan masakan khas Kota Pontianak,” pungkasnya.





