Menteri Kehutanan Pimpin Translokasi Dua Orangutan di Ketapang, Total 5 Ekor Diselamatkan
Radarkhatulistiwa – Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni meninjau langsung proses translokasi dua orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Adil dan Gigih ke kawasan konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK), Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (24/10/2026).
Pemindahan tersebut dilakukan setelah kedua orangutan jantan itu dievakuasi dari kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) di perkebunan kelapa sawit PT KALE, Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Area asal keduanya terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sehingga membutuhkan penanganan untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan satwa.
Proses penyelamatan melibatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan PT MPK. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan masyarakat serta unsur TNI dan Polri.
Kebakaran Merusak Habitat Orangutan
Evakuasi Adil dan Gigih dilakukan setelah keduanya ditemukan di kawasan HCV yang mengalami kebakaran. Kerusakan vegetasi, termasuk pohon yang menjadi sumber makanan dan tempat berlindung, membuat kondisi habitat asal tidak lagi mendukung kebutuhan hidup kedua orangutan tersebut secara optimal.
Adil ditemukan berada di pohon kelapa sawit yang terletak tidak jauh dari area HCV yang terbakar. Setelah dilakukan pembiusan untuk keperluan evakuasi, tim medis memeriksa kondisi kesehatannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan kondisi serius, meskipun terdapat luka kecil berbentuk bulat pada paha kirinya yang diduga berkaitan dengan proyektil senapan angin.
Sementara itu, proses penyelamatan Gigih membutuhkan penanganan lebih intensif. Orangutan tersebut ditemukan di atas pohon dengan ketinggian sekitar 20 meter di kawasan HCV. Posisi tersebut membuat proses evakuasi harus dilakukan secara hati-hati, terutama ketika tim melaksanakan pembiusan dan menurunkan satwa dari pohon.
Pemeriksaan medis menunjukkan Gigih berada dalam kondisi tubuh kurus dan mengalami dehidrasi. Tim kemudian memberikan cairan melalui infus serta melakukan pemantauan pascapembiusan untuk memastikan kondisinya tetap stabil sebelum proses pemindahan dilanjutkan.
Lima Orangutan Kini Dipindahkan ke Kawasan PT MPK
Translokasi Adil dan Gigih menambah jumlah orangutan yang dipindahkan ke kawasan konsesi PT MPK. Sebelumnya, tim gabungan telah merelokasi tiga orangutan jantan ke kawasan tersebut sejak awal Agustus 2026. Dengan demikian, total orangutan yang telah ditranslokasikan ke lokasi itu mencapai lima individu.
Kawasan tujuan dipilih setelah melalui beberapa tahapan survei untuk menilai kelayakan habitat. Hasil penilaian menunjukkan lokasi tersebut dinilai sesuai untuk mendukung kehidupan orangutan dan relatif lebih aman dari ancaman kebakaran yang memengaruhi habitat asal mereka.
Tim biodiversity PT MPK turut berperan dalam pemeriksaan kesesuaian habitat dan aspek keamanan kawasan sebelum lokasi digunakan sebagai tempat translokasi. Langkah ini diperlukan agar pemindahan tidak sekadar menyelamatkan satwa dari bahaya langsung, tetapi juga memberikan peluang bagi mereka untuk bertahan hidup di lingkungan yang lebih mendukung.
Direktur Utama PT MPK, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan bahwa perusahaan berkomitmen mendukung upaya konservasi dan penyelamatan orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Ia menilai kawasan yang masih terjaga memiliki peran penting sebagai tempat perlindungan satwa di tengah kerusakan habitat akibat kebakaran. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi dan pemeriksaan kelayakan habitat perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut Silverius, tim biodiversity perusahaan juga mendukung proses survei untuk memastikan lokasi tujuan memenuhi pertimbangan ekologis dan keamanan sebelum digunakan untuk translokasi.
55 Orangutan Dievakuasi di Ketapang dan Kayong Utara
Di tengah dampak karhutla terhadap habitat orangutan, upaya penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan di Kalimantan Barat. Berdasarkan data periode 6 Agustus hingga 23 Oktober 2026, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah mengevakuasi sebanyak 55 orangutan dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Dari total tersebut, sebanyak 32 individu atau lebih dari separuh jumlah orangutan yang dievakuasi berasal dari area perkebunan kelapa sawit PT KALE maupun wilayah di sekitarnya. Data ini menggambarkan besarnya tantangan penyelamatan satwa ketika kebakaran memengaruhi kawasan yang menjadi habitat mereka.
CEO YIARI, Dr. Karmele Llano Sánchez, menegaskan bahwa penyelamatan satwa harus disertai upaya perlindungan habitat agar orangutan tetap dapat hidup bebas di alam.
Ia menyampaikan bahwa keberhasilan memindahkan orangutan ke lokasi yang lebih aman merupakan langkah penting, tetapi belum menyelesaikan persoalan utama apabila kerusakan habitat terus terjadi. Perlindungan hutan perlu menjadi perhatian bersama agar satwa tidak terus-menerus menghadapi ancaman yang memaksa mereka meninggalkan habitatnya.
Menurut Karmele, pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang memerlukan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistem yang menopang kehidupan orangutan.
Menteri Kehutanan Tekankan Pentingnya Perlindungan Habitat
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penyelamatan orangutan dari ancaman karhutla harus berjalan seiring dengan upaya melindungi habitat alaminya. Ia menyebut proses translokasi membawa rasa syukur karena satwa berhasil dijauhkan dari ancaman kebakaran, sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan masih membutuhkan perhatian serius.
“Setiap kali kita melakukan translokasi orangutan, selalu ada perasaan yang bercampur aduk. Kita bersyukur karena berhasil menyelamatkan mereka dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Namun, di sisi lain, kita juga diingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjaga rumah mereka, hutan tempat orangutan hidup dan berkembang,” ujarnya.
Raja Juli berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelangsungan hidup orangutan dan kelestarian ekosistemnya. Ia juga berharap perlindungan habitat dapat ditingkatkan sehingga orangutan tidak perlu terus-menerus dievakuasi akibat kerusakan lingkungan.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, PT MPK, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan dan translokasi.
Upaya pemindahan Adil dan Gigih menjadi salah satu langkah penanganan terhadap satwa yang terdampak kebakaran di Kabupaten Ketapang. Namun, keberhasilan konservasi dalam jangka panjang tetap membutuhkan perlindungan hutan, pencegahan kebakaran, pemantauan habitat, dan kerja sama berkelanjutan agar orangutan Kalimantan dapat terus bertahan hidup di alam liar.





