Dahliansyah Sebut Keracunan Siswa MBG di Ketapang Bukan Akibat Ikan Hiu

Sekretaris I DPD Persagi Kalimantan Barat, Dahliansyah, SKM, M.Gz

RADARKHATULISTIWA- Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kalimantan Barat memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ketapang. Organisasi profesi tersebut menegaskan bahwa insiden kesehatan yang sempat menimbulkan keresahan publik itu tidak disebabkan oleh konsumsi ikan hiu, melainkan berasal dari nasi yang terkontaminasi bakteri berbahaya akibat pengelolaan pangan yang tidak memenuhi standar keamanan.

Penegasan ini disampaikan oleh Sekretaris I DPD Persagi Kalimantan Barat, Dahliansyah, SKM, M.Gz, setelah pihaknya menerima dan mempelajari hasil uji laboratorium dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Pontianak terhadap sampel makanan yang disajikan dalam program MBG tersebut.

Menurut Dahliansyah, hasil pemeriksaan laboratorium secara jelas menunjukkan bahwa ikan hiu yang sebelumnya menjadi sorotan dan perbincangan luas di masyarakat justru dinyatakan dalam kondisi aman serta tidak mengandung bakteri patogen yang membahayakan kesehatan. Sebaliknya, sumber utama keracunan ditemukan pada nasi yang mengandung bakteri Bacillus cereus, mikroorganisme yang kerap menjadi penyebab keracunan makanan, khususnya pada bahan pangan pokok seperti nasi.

“Berdasarkan hasil uji laboratorium BBPOM Pontianak, dapat dipastikan bahwa kasus keracunan di Ketapang tidak bersumber dari ikan hiu. Ikan tersebut dinyatakan aman, sementara cemaran bakteri justru ditemukan pada nasi yang dikonsumsi siswa,” ungkap Dahliansyah dalam keterangan resminya.

Ia menjelaskan bahwa gejala yang dialami para siswa, antara lain mual, muntah, pusing, serta gangguan pada saluran pencernaan, muncul dalam rentang waktu beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Pola kemunculan gejala tersebut, lanjutnya, sangat sesuai dengan karakteristik keracunan yang disebabkan oleh Bacillus cereus, bakteri yang umumnya berkembang pada makanan yang disimpan terlalu lama pada suhu tidak aman atau tidak dijaga sesuai standar keamanan pangan.

Meski ikan hiu dinyatakan bukan penyebab keracunan dalam kasus ini, Dahliansyah tetap mengingatkan bahwa bahan pangan tersebut memiliki potensi risiko kesehatan apabila tidak ditangani dan diolah secara tepat. Sebagai predator puncak di ekosistem laut, ikan hiu berisiko mengandung kadar merkuri yang lebih tinggi dibandingkan jenis ikan lainnya. Selain itu, kandungan urea dalam tubuh ikan hiu dapat berubah menjadi amonia setelah ikan mati, sehingga memerlukan proses pembersihan dan pengolahan yang sangat ketat.

“Dari sisi kandungan gizi, ikan hiu sebenarnya memiliki protein tinggi, asam lemak omega-3, serta vitamin B12. Namun karena adanya potensi risiko merkuri dan amonia, kami tidak merekomendasikan ikan hiu sebagai menu rutin dalam program MBG, terlebih karena sasaran program ini adalah anak-anak yang termasuk kelompok rentan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dahliansyah mengungkapkan bahwa Persagi Kalimantan Barat telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan klarifikasi, pemantauan, serta edukasi kepada pengelola dapur MBG di Kabupaten Ketapang. Ia menyebutkan bahwa pemilihan ikan hiu sebagai menu didasarkan pada faktor ketersediaan bahan pangan lokal, harga yang relatif terjangkau, serta kebiasaan masyarakat setempat yang sejak lama mengonsumsi ikan tersebut.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis memiliki standar keamanan pangan yang jauh lebih ketat dibanding konsumsi rumah tangga, mengingat proses produksi dilakukan dalam jumlah besar dan melibatkan waktu distribusi yang cukup panjang, mulai dari persiapan, pengemasan, hingga pengantaran ke sekolah-sekolah.

“Dalam pelaksanaan MBG, suhu makanan seharusnya dijaga tetap di atas 60 derajat Celsius. Jika makanan berada di bawah suhu tersebut dalam waktu lama, mikroorganisme dapat berkembang dengan cepat dan memicu keracunan, seperti yang terjadi pada kasus nasi ini,” terangnya.

Terkait penanganan pascakejadian, Dahliansyah memastikan bahwa seluruh prosedur standar telah dijalankan oleh pihak terkait. Langkah-langkah tersebut meliputi penghentian sementara distribusi menu, penarikan makanan yang berpotensi bermasalah, pemeriksaan sampel makanan harian, serta pemberian rujukan medis kepada para siswa yang terdampak. Program MBG di lokasi kejadian baru akan kembali dilaksanakan setelah seluruh hasil investigasi dinyatakan aman.

Sebagai langkah pencegahan ke depan, Persagi Kalimantan Barat merekomendasikan agar penyedia MBG lebih selektif dalam memilih bahan pangan, dengan mengutamakan sumber protein yang memiliki risiko lebih rendah, seperti ikan kembung, ikan tongkol, telur, maupun daging ayam. Selain itu, pengawasan terhadap proses distribusi dan penyajian makanan juga perlu diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

“Kami mendukung pemanfaatan pangan lokal dalam program MBG. Namun yang paling utama adalah memastikan keamanan pangan dan keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat,” tutup Dahliansyah. (*)

Sekretaris I DPD Persagi Kalimantan Barat, Dahliansyah, SKM, M.Gz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *