RADARKHATULISTIWA- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat mencatat nilai ekspor Kalbar pada September 2025 mengalami penurunan signifikan sebesar 49,37 persen secara bulanan (month-to-month).
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menjelaskan bahwa penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya ekspor bahan kimia anorganik, khususnya alumina, yang merosot hingga 32,12 persen.
“Selain alumina, ekspor bahan nabati seperti daun kayu putih turun sebesar 56,48 persen, dan produk tembakau, khususnya sigaret kretek tanpa filter, juga menurun 51,38 persen. Sementara jika dibandingkan tahun sebelumnya, ekspor Kalbar secara tahunan turun 59,21 persen, yang sebagian besar disebabkan oleh penurunan ekspor alumina sebesar 51,68 persen,” jelas Saichudin dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (3/11/2025).
Ia menambahkan bahwa ekspor buah-buahan, terutama kelapa tua, juga mengalami penurunan cukup tajam hingga 66,26 persen.
Berbeda dengan sektor manufaktur, ekspor dari sektor pertambangan justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 49,44 persen. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya ekspor pasir kuarsa senilai 1,81 juta dolar AS dan konsentrat zirkonium senilai 0,88 juta dolar AS.
Menurut data BPS, Belanda menjadi negara tujuan ekspor terbesar Kalbar dengan nilai mencapai 26,92 juta dolar AS, diikuti Tiongkok sebesar 18,38 juta dolar AS, dan India di posisi ketiga.
Ketiga negara tersebut didominasi oleh ekspor komoditas alumina, dengan total volume mencapai 87,34 juta ton atau senilai 44,50 juta dolar AS.
Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Barat pada September 2025 juga mengalami penurunan 18,37 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (September 2024), impor justru meningkat 44,34 persen.
Saichudin menyebutkan bahwa Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar, dengan nilai 64,70 juta dolar AS atau 70,90 persen dari total impor, yang didominasi oleh mesin pengaduk dan pencampur zat mineral.
Negara pemasok terbesar berikutnya adalah Malaysia dengan nilai 14,08 juta dolar AS (15,43 persen) untuk komoditas tenaga listrik, serta Rusia dengan nilai 11,61 juta dolar AS, terutama untuk kalium klorida.
BPS Kalbar juga mencatat bahwa pada September 2025, Kalimantan Barat mengalami defisit neraca perdagangan sebesar 0,31 juta dolar AS.
“Defisit ini merupakan yang pertama setelah beberapa tahun terakhir kita selalu surplus. Namun nilainya kecil, jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujar Saichudin.
Meski demikian, secara kumulatif, kinerja perdagangan Kalbar sepanjang Januari–September 2025 masih menunjukkan tren positif.
“Jika dibandingkan, pada periode yang sama tahun 2024 nilai perdagangan Kalbar sebesar 957,65 juta dolar AS, sedangkan hingga September 2025 meningkat menjadi 977,34 juta dolar AS. Jadi secara total, kondisi perdagangan kita masih cukup baik,” pungkasnya. (*)

