RADARKHATULISTIWA- Gelombang kekecewaan menyelimuti belasan warga Kalimantan Barat setelah mereka menyadari bahwa peluang bekerja di Amerika Serikat yang selama ini dijanjikan ternyata diduga hanya akal-akalan belaka.
Para korban, yang telah berharap bisa memperoleh pekerjaan dengan gaji ribuan dolar, kini justru menanggung kerugian total sekitar Rp1,2 miliar akibat rangkaian setoran biaya dan proses yang tak pernah membuahkan hasil.
Sejumlah korban mengungkap bahwa mereka tergiur setelah melihat tawaran pekerjaan di sektor restoran mulai dari pencuci piring, waiter, kasir, hingga asisten kasir—dengan iming-iming penghasilan antara 2.500 hingga 6.000 dolar AS per bulan, plus fasilitas tempat tinggal dan makan tanpa biaya. Janji manis itu disampaikan melalui media sosial, salah satunya unggahan di TikTok yang dikelola seseorang bernama Edi Susanto, sebagaimana diceritakan oleh Hana (30), salah satu korban.
Hana pertama kali mengetahui informasi tersebut dari video TikTok tersebut, yang menyebut bahwa calon pekerja akan diberangkatkan bersama sang pengunggah. Ia juga menyebut adanya nama lain, Caroline, yang diklaim sebagai pihak yang membuka kesempatan kerja tersebut. “Saya lihat postingannya, dan dia bilang pasti bisa lolos kerja di Amerika,” ujarnya pada Senin (8/12).
Menurut Hana, ia sempat dijanjikan terbang pada 10 Oktober 2025. Namun, jadwal keberangkatan terus berubah dengan berbagai alasan, termasuk dalih bahwa pihak perekrut masih menunggu calon pekerja lain. Demi mengikuti seluruh proses persyaratan yang disebutkan, Hana bahkan telah membeli tiket ke Surabaya untuk menghadiri wawancara pengajuan visa. Total dana yang ia keluarkan sudah melebihi setoran awal sebesar Rp25,5 juta karena adanya tambahan biaya lain selama proses berlangsung.
Kisah serupa dialami Sukito (48). Ia mengaku sudah kehilangan lebih dari Rp100 juta karena berniat membawa serta istri dan anaknya setelah diyakinkan oleh pihak yang menawarkan pekerjaan. “Saya dijanjikan kerja sebagai waiter,” tuturnya. Menurutnya, terduga pelaku bahkan sempat menyebut bahwa mereka akan bekerja di restoran baru yang rencananya dibuka di Los Angeles.
Namun, waktu demi waktu berlalu tanpa adanya kejelasan. Dana yang telah disetorkan habis, sementara keberangkatan yang dijanjikan tak pernah terealisasi. Sukito mengungkap bahwa awalnya ia hanya berencana berangkat seorang diri, tetapi kemudian diyakinkan untuk membawa keluarga sehingga kerugiannya membengkak.
Korban lainnya, Hery (46), bercerita bahwa proses wawancara ke Konsulat Amerika Serikat di Surabaya pun tak kunjung terlaksana meski sudah dijadwalkan sebanyak tujuh kali. Para korban sempat menetap sementara di Surabaya untuk menunggu kepastian pengurusan visa, namun setiap kali jadwal mendekat, mereka kembali mendapat alasan penundaan dari pihak yang menjanjikan pekerjaan tersebut. “Satu orang minimal rugi Rp30 juta. Ada yang sampai ratusan juta, terutama keluarga yang berangkat ramai-ramai,” ujarnya.
Hery memperkirakan sedikitnya ada 19 orang korban dengan kerugian total mencapai Rp1,2 miliar. Ia menyebut bahwa ada satu keluarga yang bahkan kehilangan dana hingga Rp300 juta. Ia meyakini bahwa dugaan penipuan ini tidak dilakukan oleh satu orang saja, melainkan melibatkan beberapa pihak yang berperan dalam mempromosikan lowongan maupun mengurus keberangkatan.
Selain tawaran gaji besar, para korban juga dijanjikan fasilitas lengkap seperti tempat tinggal dan konsumsi gratis di Amerika Serikat. Namun, hingga saat ini, tidak satu pun menerima kontrak kerja resmi ataupun penjelasan detail mengenai pekerjaan yang dijanjikan.
Kini, para korban berharap aparat penegak hukum dapat memberikan kepastian penanganan kasus ini. Mereka mengaku telah melaporkan dugaan penipuan tersebut ke Polda Kalbar dan tengah menunggu tindak lanjut. “Kami berharap kasus ini bisa segera diproses supaya tidak ada lagi korban lainnya,” pungkas Hery. (*)

