Pontianak Raih 12 Emas MTQ Kalbar 2026, Siap Jadi Tuan Rumah 2027

Pontianak Raih 12 Emas di MTQ Kalbar 2026, Jadi Modal Tuan Rumah Tahun 2027

RADARKHATULISTIWA – Kafilah Kota Pontianak membawa pulang hasil membanggakan dari ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang berlangsung di Kabupaten Kayong Utara.

Meski belum berhasil menyandang predikat juara umum berdasarkan akumulasi poin, Pontianak mencatatkan prestasi penting dengan menjadi daerah yang mengoleksi medali emas terbanyak pada MTQ Kalbar 2026.

Dalam ajang yang berlangsung di Sukadana pada 1 hingga 9 Agustus 2026 tersebut, kafilah Kota Pontianak berhasil mengamankan 12 gelar juara pertama dari berbagai cabang perlombaan. Raihan ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan MTQ tahun sebelumnya yang mencatatkan 11 medali emas.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembinaan qari, qariah, hafiz, hafizah, serta peserta dari berbagai cabang MTQ di Kota Pontianak terus menunjukkan perkembangan. Keberhasilan itu juga menjadi modal penting bagi Pontianak yang akan mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada 2027 mendatang.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota kafilah, pelatih, pembimbing, pendamping, dan ofisial yang telah berjuang membawa nama Kota Pontianak dalam ajang tingkat provinsi tersebut.

Menurut Edi, meskipun Pontianak belum keluar sebagai juara umum, capaian dari sisi medali emas tetap menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Ia menilai hasil tersebut memperlihatkan bahwa kualitas peserta binaan Kota Pontianak memiliki daya saing yang kuat di tingkat Kalimantan Barat.

“Walaupun tidak juara umum, saya bangga dari sisi kualitas. Kita juara dari medali emas,” ujar Edi saat menyambut kepulangan kafilah Pontianak di Aula Sultan Syarif Abdurrahman (SSA) Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (11/8/2026).

Edi menjelaskan bahwa penentuan juara umum dalam MTQ tidak hanya ditentukan berdasarkan jumlah medali emas. Sistem penilaian menggunakan akumulasi poin yang diperoleh dari berbagai peringkat dan cabang perlombaan. Karena itu, banyaknya medali emas yang diraih belum otomatis membuat sebuah daerah menjadi juara umum.

Hasil tersebut, menurut Edi, harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pembinaan ke depan. Ia meminta Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Pontianak agar terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan dan tidak hanya berfokus pada persiapan menjelang pelaksanaan MTQ.

Para peserta yang telah berhasil meraih juara juga diminta untuk tidak berhenti berlatih setelah kompetisi selesai. Menurut Edi, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan membutuhkan latihan yang konsisten serta pendampingan dalam jangka panjang.

“Yang dapat emas sekarang ini harus terus berlatih. Bahkan setiap bulan kita kasih insentif. Yang kedua, yang ketiga, jangan lupa ikut berlatih. Termasuk pelatih dan pembimbing,” katanya.

Ia menambahkan, pola pembinaan ke depan harus semakin terarah, termasuk dalam menemukan dan mengembangkan bibit-bibit baru yang memiliki potensi di berbagai cabang MTQ.

Upaya tersebut dinilai penting agar regenerasi peserta MTQ di Kota Pontianak dapat terus berjalan. Dengan adanya pembinaan sejak usia dini dan latihan berkelanjutan, diharapkan semakin banyak generasi muda yang mampu berprestasi di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.

Edi menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh hanya berorientasi pada hasil satu kali perlombaan. Prestasi MTQ harus dibangun melalui proses panjang yang melibatkan peserta, pelatih, pembimbing, lembaga pembinaan, keluarga, serta dukungan pemerintah.

Apalagi, Kota Pontianak akan menjadi tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada 2027. Kepercayaan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Kota Pontianak untuk mempersiapkan penyelenggaraan yang baik sekaligus meningkatkan kualitas kafilah.

Menurut Edi, persiapan menghadapi MTQ 2027 harus dilakukan sejak sekarang. Peserta yang telah berprestasi pada MTQ tahun ini akan terus dibina, sementara pemerintah juga membuka peluang untuk menghadirkan pelatih yang memiliki kompetensi untuk meningkatkan kemampuan para kafilah.

“Kita sudah mulai melakukan upaya, termasuk yang sudah juara ini terus kita latih. Kita akan datangkan mungkin pelatih-pelatih. Ini cita-cita kita sehingga tahun depan sebagai tuan rumah kita sudah merasa siap dan bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Pontianak,” ungkapnya.

Selain kesiapan sebagai penyelenggara, status tuan rumah juga diharapkan menjadi motivasi tambahan bagi para peserta untuk tampil lebih baik. Pontianak tidak hanya dituntut sukses dalam menggelar MTQ, tetapi juga diharapkan mampu menunjukkan kualitas kafilahnya di hadapan masyarakat Kalimantan Barat.

Sementara itu, Ketua LPTQ Kota Pontianak, Amirullah, mengatakan keikutsertaan Pontianak pada MTQ ke-34 menghasilkan 34 prestasi dari berbagai cabang perlombaan.

Selain 12 medali emas, kafilah Pontianak juga berhasil mengoleksi medali perak dan perunggu serta sejumlah prestasi pada kategori juara harapan.

Amirullah menilai peningkatan jumlah medali emas dari 11 pada tahun sebelumnya menjadi 12 pada MTQ 2026 merupakan indikator positif terhadap perkembangan pembinaan kafilah Pontianak.

“Secara medali emas, Pontianak berada di posisi pertama. Tahun lalu 11 emas, tahun ini 12 emas. Artinya secara prestasi ada peningkatan,” jelasnya.

Meski demikian, LPTQ Kota Pontianak tetap akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Salah satu fokus pembenahan adalah meningkatkan jumlah peserta yang mampu menembus babak final serta memperkuat perolehan poin pada seluruh cabang yang dipertandingkan.

Evaluasi tersebut diperlukan agar Pontianak tidak hanya memiliki beberapa peserta yang mampu meraih juara pertama, tetapi juga memiliki kekuatan yang merata pada berbagai kategori perlombaan.

Amirullah berharap pencapaian di MTQ Kalbar 2026 dapat menjadi pijakan untuk membangun prestasi yang lebih tinggi. Pembinaan yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu melahirkan kafilah yang tidak hanya kompetitif di tingkat Kalimantan Barat, tetapi juga siap bersaing pada ajang MTQ tingkat nasional.

“Pembinaan harus diarahkan pada peningkatan kualitas, sehingga kafilah Pontianak tidak hanya kuat di tingkat Kalimantan Barat, tetapi mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi,” tutupnya.

Dengan raihan 12 medali emas sekaligus kepercayaan menjadi tuan rumah MTQ Kalbar 2027, Kota Pontianak kini memiliki dua pekerjaan besar yang harus dipersiapkan secara bersamaan. Selain memastikan pelaksanaan MTQ berjalan sukses, pembinaan kafilah juga perlu diperkuat agar momentum tersebut dapat menjadi titik penting bagi peningkatan prestasi MTQ Pontianak di masa mendatang.

Iklan