Pekan Gawai Dayak XL 2026 Resmi Dibuka, Rumah Radakng Pontianak Dipenuhi Warna Budaya dan Semangat Tradisi

Pekan Gawai Dayak XL 2026 Resmi Dibuka, Rumah Radakng Pontianak Dipenuhi Warna Budaya dan Semangat Tradisi

RADARKHATULISTIWA – Suasana meriah dan penuh semangat budaya menyelimuti kawasan Rumah Radakng, Pontianak, saat Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-XL Tahun 2026 resmi dibuka, Rabu (20/5/2026).

Dentuman meriam tradisional, riuh tepuk tangan, serta lantunan musik khas Dayak menjadi penanda dimulainya salah satu perayaan budaya terbesar masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.

Jalan Sultan Syahrir di Kecamatan Pontianak Kota yang menjadi pusat kegiatan berubah menjadi panggung budaya terbuka yang dipenuhi warna-warni pakaian adat tradisional, ornamen etnik, serta semangat kebersamaan dari ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah.

Sejak pagi, ratusan peserta parade telah memadati area acara dengan mengenakan busana adat khas Dayak yang memikat perhatian. Beragam kostum tampil memukau, mulai dari hiasan kepala berbulu burung ruai, manik-manik tradisional, hingga aksesori unik berbahan alami yang sarat makna filosofis dan nilai budaya leluhur.

Tak hanya parade pejalan kaki, kendaraan hias bertema budaya Dayak juga turut memeriahkan arak-arakan. Suara sorakan khas, iringan lagu tradisional, serta pertunjukan simbolik dari masing-masing kontingen semakin menambah semarak suasana pembukaan.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Warga Pontianak memadati sisi jalan untuk menyaksikan jalannya parade, mengabadikan momen melalui kamera ponsel, hingga berinteraksi langsung dengan para peserta. Bahkan, sejumlah wisatawan dari luar daerah tampak ikut larut dalam kemeriahan, menjadikan PGD sebagai salah satu daya tarik budaya yang dinanti setiap tahunnya.

Pembukaan resmi Pekan Gawai Dayak tahun ini ditandai dengan dentuman meriam tradisional, simbol dimulainya rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan adat dan identitas masyarakat Dayak.

Untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib, aparat keamanan tampak melakukan pengamanan ketat di sejumlah titik strategis. Personel dari Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dinas Perhubungan, serta unsur terkait lainnya berjaga sepanjang lokasi kegiatan guna mengatur arus lalu lintas dan menjaga kenyamanan pengunjung.

Di balik kemegahan parade, tersimpan kisah para peserta yang dengan penuh dedikasi menyiapkan penampilan terbaik mereka. Salah satunya adalah Alex (26), peserta dari komunitas Dayak Kanayatn yang mewakili Sanggar Tujuh Talino Pantak Nek Kumpakng.

Alex tampil mencuri perhatian dengan busana adat berbahan kulit kayu khas Kanayatn, lengkap dengan aksesori tradisional yang terbuat dari material asli.

“Saya dari Dayak Kanayatn, Sanggar Tujuh Talino Pantak Nek Kumpakng. Ciri khas kami menggunakan kulit kayu, berbeda dengan yang lain yang memakai kain. Kami juga menggunakan bulu ruai asli dan beberapa ornamen dari material asli,” ujarnya saat ditemui di lokasi acara.

Ia menjelaskan, kostum yang dikenakannya bukan hasil persiapan singkat. Dibutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menyelesaikan satu set pakaian adat, tergantung pada ketersediaan bahan baku dan proses pengerjaan oleh pengrajin.

“Kalau bahan tersedia, pembuatan satu set kostum bisa memakan waktu sekitar satu bulan. Semua dibuat dengan detail karena memang ingin menampilkan yang terbaik,” jelasnya.

Bagi Alex, keikutsertaannya dalam Pekan Gawai Dayak tahun ini merupakan pengalaman yang membanggakan. Ini merupakan kali kedua dirinya mengikuti perayaan budaya tersebut, dan menurutnya PGD 2026 terasa jauh lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Saya senang sekali bisa ikut lagi. Tahun ini terasa lebih ramai, lebih meriah, dan antusias masyarakat juga luar biasa,” katanya dengan wajah penuh semangat.

Rasa bahagia dan kebanggaan terlihat jelas dari ekspresinya saat mengikuti parade bersama peserta lainnya. Baginya, Gawai Dayak bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan budaya leluhur kepada masyarakat luas.

Ia berharap, Pekan Gawai Dayak di masa mendatang dapat terus berkembang, semakin meriah, dan menarik lebih banyak perhatian, termasuk dari wisatawan nasional maupun mancanegara.

“Semoga ke depannya semakin sukses, semakin ramai, dan makin banyak orang dari luar yang datang untuk ikut merasakan kemeriahan budaya Dayak,” harap Alex.

Salah satu hal yang membuat kostumnya semakin unik adalah penggunaan material asli yang jarang ditemui, termasuk ornamen dari tengkorak hewan yang memiliki nilai simbolis tersendiri dalam budaya tradisional.

“Beberapa ornamen yang saya pakai memang asli, seperti tengkorak monyet, beruang, dan kijang,” ungkapnya.

Pekan Gawai Dayak bukan hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Dayak dalam menjaga identitas dan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman. Perayaan ini sekaligus memperkuat posisi Pontianak sebagai salah satu pusat budaya dan destinasi wisata unggulan di Kalimantan Barat.

Pekan Gawai Dayak XL 2026 Resmi Dibuka, Rumah Radakng Pontianak Dipenuhi Warna Budaya dan Semangat Tradisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *