Kisah Dua Peserta MTQ Pontianak, Sempat Gugup hingga Tersendat di Panggung Tahfiz 5 Juz

Kisah Dua Peserta MTQ Pontianak, Sempat Gugup hingga Tersendat di Panggung Tahfiz 5 Juz

RADARKHATULISTIWA – Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kecamatan di Kota Pontianak tak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan para peserta dalam menaklukkan tantangan saat tampil.

Dua di antaranya, Dimi Tree Gharin (16) dan Fikriyatul Ummah (16), berbagi pengalaman berharga saat mengikuti cabang tahfiz 5 juz ma’atilawah.

Dimi Tree Gharin mengaku sempat mengalami kendala di detik-detik akhir penampilannya. Ia kehilangan irama bacaan dan melakukan kesalahan kecil dalam pelafalan ayat. Meski sempat terkejut, Dimi berusaha tetap tenang dan melanjutkan hingga selesai.

Menurutnya, momen tersebut menjadi ujian mental yang harus dihadapi di atas panggung. Ia bersyukur tetap mampu menuntaskan penampilan dengan baik meskipun sempat terganggu konsentrasi.

Perjalanan Dimi menjadi seorang penghafal Al-Qur’an bermula dari dorongan orang tua. Namun seiring waktu, ia mulai menemukan ketertarikan dan kenyamanan dalam mendalami Al-Qur’an hingga akhirnya menikmati proses menghafal yang dijalani.

Untuk menghadapi lomba ini, Dimi melakukan persiapan intensif selama hampir satu pekan. Sementara itu, proses menghafal 5 juz telah ia tempuh selama kurang lebih tiga bulan dengan metode setoran rutin kepada ustaz di pondok pesantren. Setiap juz diuji secara bertahap untuk memastikan kualitas hafalan tetap terjaga.

Ia menjelaskan bahwa satu juz biasanya diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu, dengan pengulangan harian sebagai kunci kelancaran. Menariknya, MTQ kali ini merupakan pengalaman pertamanya tampil dalam kompetisi serupa.

Dukungan dari para ustaz, pelatih, serta teman-teman yang hadir langsung di lokasi lomba menjadi faktor penting yang membantunya mengurangi rasa gugup.

Sementara itu, peserta lain, Fikriyatul Ummah, juga menghadapi tantangan tersendiri. Ia mengaku kurang puas dengan penampilannya karena sempat terhenti saat mengingat hafalan, bahkan mendapat teguran dari dewan juri.

Meski demikian, Fikriyatul tetap menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas hafalannya ke depan. Ia menyebut motivasinya menjadi hafizah lahir dari kecintaannya terhadap Al-Qur’an serta keinginan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Dalam metode menghafal, Fikriyatul mengandalkan pengulangan bacaan secara intens sebelum mulai menghafal ayat. Cara ini membantunya memahami sekaligus memperkuat ingatan terhadap setiap ayat yang dipelajari.

Berbeda dengan Dimi, ia membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan hafalan 5 juz, yakni sekitar satu tahun. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan di tempatnya bukan berbasis tahfiz penuh, melainkan kegiatan tambahan di luar pelajaran utama.

Meski memiliki keterbatasan waktu, Fikriyatul tetap menjaga konsistensi dengan belajar setiap hari lebih dari dua jam, yang dibagi antara pagi dan malam. Disiplin tersebut membuahkan hasil, bahkan ia pernah meraih prestasi hingga tingkat provinsi.

Seperti halnya Dimi, awalnya ia juga mendapat dorongan dari orang tua untuk menghafal Al-Qur’an. Namun seiring berjalannya waktu, proses tersebut justru menjadi aktivitas yang ia nikmati dan tekuni dengan penuh kesungguhan.

Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa di balik panggung MTQ, terdapat proses panjang, latihan disiplin, serta perjuangan mental yang tidak ringan dalam menjadi generasi penghafal Al-Qur’an.

Kisah Dua Peserta MTQ Pontianak, Sempat Gugup hingga Tersendat di Panggung Tahfiz 5 Juz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *